SHARE

Ekonomi - Badan Penghubung Jawa Barat
15613
page-template-default,page,page-id-15613,bridge-core-2.5.8,ajax_fade,page_not_loaded,,qode-title-hidden,side_area_uncovered_from_content,hide_top_bar_on_mobile_header,qode-theme-ver-24.3,qode-theme-bridge,qode_header_in_grid,wpb-js-composer js-comp-ver-6.4.2,vc_responsive
EKONOMI

Tanaman Akar Wangi
Tanaman Akar Wangi yang dalam bahasa latinnya “Vetiveria Zizanioides” tumbuh dan berkembang di Negara-negara yang beriklim tropis seperti di Indonesia, khususnya di daerah Kabupaten Garut Provinsi Jawa Barat.

 

Tanaman akar wangi termasuk rumpun Graminae, berumpun lebat, akar tinggal bercabang banyak dan berwarna kuning pucat atau abu abu. Satu rumpun tanaman akar wangi terdiri atas beberapa anak rumpun. Tangkai daunnya dapat dijadikan berbagai macam kerajinan anyaman sedangkan akarnya digunakan untuk dibuat minyak akar wangi yang bernilai ekonomi tinggi.

Mengenai asalnya, konon dari daerah Sri Langka, India dan Burma dan dalam perkembangannya telah menyebar ke daratan Negara Amerika, Afrika dan Australia.

Mengapa demikian cepat menyebar ? jawabannya, karena tanaman akar wangi khususnya banyak manfaat dan kegunaannya yang bernilai ekonomi atau menjadi nilai tambah. Dalam perkembangan berikutnya, akar wangi dapat diolah menjadi minyak sebagai bahan dasar pembuatan  parfum dan kosmetik lainnya.

Karena kegunaan dan manfaat yang  memiliki nilai ekomis serta seiring perkembangan teknologi di bidang pertanian (perkebunan), maka Tanaman Akar Wangi semakin dibudidayakan masyarakat.

Dimana tumbuh Tanaman Akar Wangi ?

Keadaan tanah dan iklim sangat berpengaruh kuat pada pertumbuhan Tanaman Akar Wangi dan karena itu harus mendapat perhatian yang serius.

Keadaan tanah yang berpasir (gembur) sangat disenangi akar wangi. Karena dari tanah semacam itu akarnya akan tumbuh panjang dan lebat serta mudah dicabut ketika sudah cukup umur untuk diproduksi.

Derajat keasaman tanahpun ( ph) harus diperhitungkan, biasanya pada kisaran 7-8. Bagi tanah yang phnya kurang akan menyebabkan pertumbuhan akar wangi kecil atau kerdil. Oleh karena itu, tanah tersebut harus dilakukan pengapuran terlebih dahulu dalam waktu yang secukupnya.

Mengenai iklim untuk tanaman akar wangi, disukai pada keadaan yang terik matahari yang jatuh langsung pada tanamannya. Juga memerlukan curah hujan yang cukup. Dan karenanya menanam Akar wangi sangat cocok pada ketinggian antara 350 sd 2000 meter di atas permukaan laut.

Bagaimana memelihara dan memanen Tanaman Akar Wangi ?

Sebagaimana tanaman lainnya, akar wangipun perlu proses pemeliharaan yang baik dan intensif.

Pemeliharaan itu meliputi pekerjaan : penyulaman, penyiangan, pemupukkan, pemangkasan dan pengendalian hama.

Sedangkan mengenai memanennya, tidaklah sulit. tanaman yang sudah berusai sekira 2 tahun adalah waktu yang tepat untuk memanennya. Setelah tanah-tanah disekitarnya dicangkul, barulah akar wangi dicabut secara perlahan agar akar tidak terputus.

Pada tahap pasca panen, akar wangi dikeringkan hingga sekitar 12 hari yang tujuannya untuk menghilangkan kadar air dalam akar.

Akar wangi yang sudah dikering, siap untuk dilakukan penyulingan guna menghasilan “Minyak Akar Wangi” yang berkualitas sebagai bahan parfum dan kosmetik lainnya.

 

Tanaman Akar Wangi di Kabupaten Garut

 

Budidaya tanaman akar wangi di Kabupaten Garut, menurut data dari Dinas Perkebunan Prov. Jabar, terletak di Kecamatan Samarang, Leles, Bayongbong, Cilawu, Cisurupan, dan Pasirwangi.

Keberadaan budidaya tanaman akar wangi di Kabupaten Garut dipayungi dengan Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 249/AII/5/SK/1974 mengenai Penanaman Akar Wangi. SK Gubernur tersebut, mengatur hal-hal sebagai berikut.

  1. Tidak ditanam di Daerah Aliran Sungai (DAS) yang sedang menjadi daerah penghijauan ;
  2. Tidak termasuk di daerah yang berfungsi hydro-agrologis ;
  3. Tidak merupakan daerah berbukit dengan kemiringan lebih dari 150.

 

Enambelas tahun kemudian, melalui SK Gubernur Jabar Nomor 30 tahun 1990, Pemerintah memperbolehkan para petani menanam akar wangi, dengan syarat harus memperhatikan teknik konservasi tanah dan air. Hingga sekarang, budidaya terus berkembang dan lahan terjaga dari kondisi longsor dan erosi. Khusus untuk budidaya di Kabupaten Garut diatur lebih lanjut dengan Keputusan Bupati Garut Nomor : 520/SK.196-HUK/96 tanggal 6 Agustus 1996.

Rata-rata luas areal tanam akar wangi dan produksi minyak akar wangi di 5 Kecamatan tersebut di atas, adalah :

1. Kec. Samarang —– 750 Ha — 22,5 ton minyak;

2. Kec. Bayongbong — 210 Ha —   6,3 ton minyak;

3. Kec. Cilawu  ——— 240 Ha —   7,2 ton minyak;

4. Kec. Leles  ———– 750 Ha — 22,5 ton minyak;

5. Kec. Pasirwangi —- 450 Ha — 13,5 ton minyak.

 

Menurut catatan yang ada di Dinas Perkebungan Prov. Jabar, produksi akar wangi dari Kabupaten Garut, memasok 90 % lebih dari total produksi nasional atau sekitar 60-70 ton per tahun. Untuk tahun 2004 Kabupaten Garut berhasil mengekspor minyak akar wangi sebanyak 29, 1 ton dengan nilai US $ 1,175,920.0

 

Potensi Tembakau Di Kabupaten Garut

 

Usaha budidaya Tembakau sudah sejak lama dilakukan para petani di Kabupaten Garut. Usaha ini merupakan usaha Tembakau rakyat, dengan nama “Tembakau Mole” (Rajangan Halus) yang memiliki aroma serta cita rasa khas Garut.

 

Berdasarkan analisa pasar, Tembakau Mole Garut, memiliki keunggulan dan prospek pasar yang sangat cerah karena memiliki kualitas tersendiri sebagai sumber bahan baku bagi beberapa perusahaan pabrik rokok dalam negeri.

 

Pemasaran Tembakau Mole selama ini tidak mengalami kendala, sebab, sejak tahun 1990 terserap habis oleh pabrik roko melalui kerjasama pembelian antara petani tembakau yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) dan Koperasi Tabecco dengan PT HM Sampoerna serta PT Djarum Kudus. Bahkan sejak tahun 1997, kerjasama pembelian berkembang dengan Pengusaha dari Temanggung dan Wonosobo terutama dalam pembelian daun tembakau basah.

 

Walaupun produk tembakau Mole tersebut habis terserap, namun para petani tembakau Garut masih terus berusaha mengembangkan kualitas hasil, diantaranya melalui pemurnian benih dan pengembangan benih serta pelatihan petani. Pengembangan benih yang akan ditanam, saat ini pada posisi Tahun 2007 akan memulai dengan jenis Tembakau Virginia . Pengembangan jenis ini baru tahun uji coba dan penyebaran bibit dan diperkirakan pada tahun 2008, seluruh petani tembakau sudah mulai membudidayakan jenis tembakau Virginia.

 

Berdasarkan data dari Dinas Perkebunan Kabupaten Garut, luas areal tanaman tembakau berjumlah 3.448,9 Ha yang tersebar di 18 Kecamatan. Dari luas lahan tersebut produksi yang dihasilkan mencapai 11.208.469 Ton bahan baku daun basah. Dari bahan baku tersebut dapat menghasilkan 2.504,055 Ton Tembakau Rajangan (Mole). Sedangkan jumlah petani pengelola budi daya tembakau berjumlah 10.345 KK yang tergabung kedalam 119 kelompok tani.

 

Mengenai pemasaran dalam negeri, selama ini terserap oleh PT Sadana (Perwakilan PT HM Sampoerna di Jawa Barat) sekira 1.500 Ton. Kemudian oleh PT Djarum Kudus sekira 70 Ton dan sisasnya oleh perusahaan guntingan. Sedangkan dalam bentuk daun basah terserap oleh Perusahaan dari Kabupaten Temanggung dan Wonosobo, sebanyak 1.500 Ton. Harga pasaran ditingkat produsen untuk tembakau mole rata-rata Rp 15.000,- sd Rp 25.000,-. Sedangkan untuk daun segar Rp 1.500 s.d Rp 2.000,-/Kg.

 

Nilai Produksi tembakau yang dihasilkan Kabupaten Garut dari luas areal tanam 3,448,9 Ha, yaitu : 3.198 Ha dengan produksi tembakau mole 2.321 Ton/Tahun senilai Rp 34.815.000.000,-. Kemudian, 250 Ha produksi daun segar basah sebanyak 1.500 Ton/Tahun senilai Rp 2.250.000.000,-/Tahun. Keseluruhan kontribusi dari produk tembakau rakyat terhadap nilai PDRB Kabupaten Garut, yaitu sebesar Rp 27.065.000.000,-/Tahun.

 

Jumlah nilai tersebut, akan terus ditingkatkan melalui langkah-langkah kebijakan Pemerintah Kabupaten Garut yang diarahkan pada :

 

Perbaikan mutu hasil tembakau dan peningkatan produktivitas melalui penerapan teknologi intensif ;

  1. Penyediaan sarana dan prasarana yang sesuai serta mengupayakan adanya bantuan modal dengn suku bunga rendah ;
  2. Pengembangan system pemasaran dengan memberi peran/peluang yang lebih besar kepada Kelompok Usaha Bersama (KUB) dan Koperasi dalam tata niaga tembakau ;
  3. Peningkatan penelitian dan pengembangan system budi daya (pemurnian benih), social ekonomi dan informasi pasar ;
  4. Pemantapan kemitrausahaan tembakau.

 

Sasaran-sasaran tersebut, akan dilaksanakan sejalan antara Pemerintah Kabupaten dengan para petani yang tergabung dalam kelompok tani sehingga system agribisnis tembakau menjadi tangguh, yang meliputi : subsistem produksi (lahan budi daya, usaha tani intensif dan petani tanggung), subsistem pengolahan (hasil produksi yang bermutu, teknologi pengolahan yang baik dan pengusaha/pengolah) dan subsistem pemasaran kelembagaan petani dan usaha, pengolah : KUB, Koperasi dan Assosiasi Tembakau).

 

Sumber : Dinas Perkebunan Kabupaten Garut.

 

Ayam Pelung Cianjur
Ayam Pelung merupakan ayam peliharaan asal Cianjur, sejenis ayam asli Indonesia dengan tiga sifat genetik. Pertama suara berkokok yang panjang mengalun. Kedua pertumbuhannya cepat. Ketiga postur badan yang besar. Bobot ayam pelung jantan dewasa bisa mencapai 5 – 6 kg dengan tinggi antara 40 sampai 50 cm.

Menurut cerita tahun 1850 di Desa Bunikasih Kecamatan Warungkondang Cianjur ada Kiayi dan Petani bernama H. Djarkasih atau Mama Acih menemukan anak ayam jantan di kebunnya.

Anak ayam yang trundul di bawa pulang dan dipelihara. Pertumbuhan anak ayam tersebut sangat pesat menjadi seekor Ayam Jago bertubuh besar dan tinggi serta suara kokoknya panjang mengalun dan berirama. Ayam jantan itu dinamakan Ayam Pelung dan oleh Mama Acih dikembangkan, dikawinkan dengan ayam betina biasa.

Sekarang Ayam Pelung ini semakin terkenal dan cukup diminati oleh masyarakat umum, wisatawan nusantara dan mancanegara. Seorang Putra Kaisar Jepang pernah berkunjung ke Warungkondang untuk melihat peternakan Ayam Pelung tersebut. Bahkan di Cianjur setiap tahun diselenggarakan kontes Ayam Pelung yang diikuti pemilik dan pemelihara ayam pelung se-Jawa-Barat dan DKI Jakarta. Ayam Pelung terbaik yang menjadi juara kontes bisa mencapai harga jutaan rupiah.

Potensi Khas Cianjur
Beras Cianjur
Beras asli Cianjur yang terkenal dihasilkan dari jenis padi varietas lokal dan secara terbatas di tanam pada areal pesawahan di Kecamatan Warungkondang, Cugenang, Cianjur dan sekitarnya dengan ketinggian 700 meter dari permukaan laut. Termasuk varietas Javonika atau padi bulu dengan ciri-ciri tinggi tanaman rata-rata diatas 1 meter, tidak tahan rebah, umur panjang (panen 2 kali setahun) dan kurang respon terhadap pemupukan. Ciri-ciri lainnya tidak tahan terhadap virus kerdil rumput dan tungro, rasanya enak, wangi, tidak basi sehingga harga beras padi jenis ini cukup mahal.

Beras asli Cianjur disebut Pandan Wangi danyang paling terkenal berasal dari daerah Kecamatan Warung Kondang. Beras jenis inu banyak dijual di toko-toko dari ukuran 5 kg sampai 10 kg.

Manisan salah satu ole-ole yang cukup digemari oleh masyarakat luar Cianjur yang singgah di kota Cianjur ini, terbuat dari buah-buahan mentah atau sayuran yang diawetkan dengan bahan pemanis gula pasir yang diberi pewarna untuk menguatkan selera makan, mudah didapat di sepanjang jalan Raya Bandung, atau Dr.Muwardi di sepanjang jalan cugenang serta jalan Cipanas.

Tauco
Tauco yang bahannya dari kacang kedele merupakan makanan khas Cianjur dan dapat di jadikan makanan variatif seperti geco, sambal,tauco atau pecel tauco. Mudah didapat di kota Cianjur dan dijadikan ole-ole bagi masyarakat luar kota Ciajur yang singgah di Cianjur.

Cinderamata

Sanggar Bambu
Aneka kerajinan dibuat dari bambu oleh pengrajin di Kota Cianjur seperti tudung saji, nampan, lampu duduk sangat artistik dan unik. Sanggar bambu ini mendapat penghargaan upakarti tahun 1992.

Lentera Gentur  
Lentera Gentur dibuat dari kuningan dan bahan kaca berwarna dengan desain yang artistik merupakan salah satu kerajinan rakyat Cianjur yang sudah terkenal, berlokasi di Kecamatan Warungkondang.

Keramik  
Kerajinan keramik berlokasi di Kecamatan Ciranjang pada satu sentra produksi dan satu unit usaha oleh lima orang pengrajin. Ruangan rumah akan bertambah anggun dan artistik bila kerajinan ini dipasang secara serasi.

Miniatur Kecapi  
Kerajinan Miniatur Kecapi terbuat dari logam atau kayu yang dibuat sesuai dengan aslinya.Alat musik ini biasa digunakan untuk mengiringi tembang Cianjuran termasuk berbagai jenis lagu sunda lainnya.

Sangkar Burung 
Sangkar Burung, satu kerajinan yang bernilai ekonomis produktif berlokasi di Kecamatan Karangtengah. Kerajinan Sangkar Burung telah mendapat penghargaan Nasional Upakarti tahun 1994.

 

Potensi Garut

 

Jeruk Garut

Citra Kabupaten Garut sebagai sentra Produksi Jeruk di Jawa Barat khususnya dan nasional pada umumnya, diperkuat melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 760/KPTS.240/6/99 tanggal 22 Juni 1999 tentang Jeruk Garut yang telah ditetapkan sebagai Jeruk Varietas Unggul Nasional dengan nama Jeruk Keprok Garut I. Penetapan tersebut pada dasarnya menunjukkan bahwa Jeruk Garut merupakan salah satu komoditas pertanian unggulan nasional yang perlu terus dipertahankan dan ditingkatkan kualitas maupun kuantitas produksinya.

 

Sudah sejak lama, jeruk Garut telah popular dan menjadi trademark Kabupaten Garut. Oleh karena itu, sesuai dengan Perda No. 9 Tahun 1981, jeruk garut telah dijadikan sebagai komponen penyusun lambang daerah Kabupaten Garut. Selain sebagai buah ciri khas Kabupaten Garut, jeruk merupakan komoditas sub-sektor pertanian tanaman pangan yang mempunyai prospek cukup cerah dengan nilai ekonomis yang cukup tinggi.

 

Sebagai komoditas unggulan khas daerah, Jeruk Garut mempunyai peluang tinggi untuk terus dikembangkan karena keunggulan komparatif dan kompetitifnya serta adanya peluang yang masih terbuka luas. Dengan berbagai usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksinya, Jeruk Garut akan mampu bersaing dengan produk sejenis baik pada tingkat l nasional seperti halnya Jeruk Medan, Jeruk Pontianak serta jeruk impor seperti Jeruk Mandarin dan Jeruk New Zealand.

Investasi pada komoditas ini cukup prospektif dan dapat memberikan nilai tambah ekonomis yang cukup tinggi baik bagi para petani maupun investornya. Dari studi kelayakan yang dilakukan pada tahun 1997 menunjukkan, untuk tanaman jeruk seluas 1 Ha (sekitar 500 pohon) akan memberikan gambaran keuntungan riil pada tahun ke-4 sebesar Rp 39.966.000,00.

Sebagai daerah sentra produksi jeruk, Pemerintah Kabupaten Garut yang didukung oleh pihak-pihak terkait terus berusaha untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produksinya. Saat ini belum ada sumber yang melaporkan kapasitas jeruk garut secara spesifik. Saat ini, komoditas jeruk garut umumnya terselip di antara tanaman jeruk siam/keprok yang tersebar di beberapa wilayah Kabupaten Garut. Adapun ilustrasi kapasitas produksi jeruk keprok/siam di Kabupaten.

 

Dodol Garut

Dodol Garut merupakan salah satu komoditas yang telah mampu mengangkat citra Kabupaten Garut sebagai penghasil Dodol yang berkualitas tinggi dan beraneka ragam jenis Dodol yang diproduksi. Dodol Garut ini dikenal luas karena rasanya yang khas dan kelenturan yang berbeda dari produk yang sejenis dari daerah lain.

Industri ini berkembang sejak tahun 1926, oleh seorang pengusaha yang bernama Ibu Karsinah dengan proses pembuatan yang sangat sederhana dan terus berkembang hingga saat ini, hal ini disebabkan karena :
1.    Memiliki cita rasa yang berbeda dan mampu bersaing dengan jenis dodol yang berasal dari daerah lain;
2.    Harganya terjangkau dan merupakan makanan yang sangat digemari oleh masyarakat;
3.    Proses pembuatannya sangat sederhana dan bahan bakunya mudah diperoleh;
4.    Tidak menggunakan bahan pengawet dan tambahan bahan makanan yang bersifat sintetis;
5.    Memiliki daya tahan cukup lama ( 3 bulan).
Komoditi ini mudah dikembangkan dengan memodifikasi bahan baku utamanya yaitu dengan memanfaatkan bahan lain buah waluh, kentang, kacang, pepaya, nenas, sirsak dan lain-lain. Dekranasda juga membantu pemasaran melalui pameran-pameran, perbaikan kualitas produk maupun perbaikan desain kemasan melalui pelatihan-pelatihan.
Rata-rata kapasitas produksi per tahun adalah 4.378 ton. Adapun potensi industri Dodol Garut pada tahun terakhir tercatat sebagai berikut :

 

Jaket Kulit Khas Desa Sukaregang

Salah satu komoditas andalan dari pengrajin kulit di Kabupaten Garut adalah produksi pakaian jadi dari kulit dan jaket kulit sapi (agak keras) dan domba (lentur), yang di kalangan tertentu khususnya di lingkungan bisnis fashion terkenal dengan sebutan “Jaket Kulit Garut”.

Faktor pendukung terwujudnya sentra industri jaket kulit ini diantaranya adalah ketersediaan bahan baku . Sumber bahan baku di Kabupaten Garut cukup melimpah dengan lokasi yang strategis, berdekatan bahkan menyatu dalam lingkungan sentra industri kecil penyamakan kulit

 

Domba Garut

Domba Garut telah dibudidayakan masyarakat Garut sejak lama. Domba yang memiliki fisik yang besar dan kuat ini, melahirkan seni atraksi laga domba yang di daerah Bayongbong Garut. Domba Garut merupakan hasil persilangan segitiga antara domba asli Indonesia , domba Merino dari Asia Kecil dan domba ekor gemuk dari Afrika. Domba ini dikenal oleh masyarakat dengan sebutan Domba Garut, yang dikenal juga dengan sebutan domba priangan.
Ciri-ciri fisiknya antara lain:
1.    Badan agak besar. Domba jantan dewasa mempunyai bobot 60-80 kg, sedangkan yang betina mempunyai bobot 30-40 kg.
2.    Domba jantan memiliki tanduk yang cukup besar, melengkung kearah belakang, dan ujungnya mengarah kedepan sehingga berbentuk seperti spiral. Pangkal tanduk kanan dan kiri hampir bersatu.
3.    Domba betina tidak memiliki tanduk.
4.    Ekornya pendek dan pangkalnya agak besar (gemuk).
5.    Lehernya agak kuat.
6.    Bentuk telinganya ada yang panjang, pendek dan sedang yang terletak dibelakang pangkal tanduk.
7.    Bulunya lebih panjang dan halus jika dibandingkan dengan domba asli, berwarna putih, hitam, cokelat, atau kombinasi dari ketiga warna tersebut.
8.    Domba ini baik untuk penghasil daging.

WordPress Lightbox Plugin